Kamis, 30 September 2010

Hati


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Hati
Human Hepar.jpg
Hati manusia
Hati (bahasa Yunaniἡπαρ, hēpar) merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat ekskresi. Hal ini dikarenakan hati membantu fungsi ginjaldengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan amoniaurea, dan asam urat dengan memanfaatkannitrogen dari asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikasi.
Lobus hati terbentuk dari sel parenkimal dan sel non-parenkimal.[1] Sel parenkimal pada hati disebut hepatosit, menempati sekitar 80%volume hati dan melakukan berbagai fungsi utama hati. 40% sel hati terdapat pada lobus sinusoidal, lumen lobus terbentuk dari SECdan ditempati oleh 3 jenis sel lain, seperti sel Kupffersel Itolimfosit intrahepatik seperti sel pit. Sel non-parenkimal menempati sekitar 6,5% volume hati dan memproduksi berbagai substansi yang mengendalikan banyak fungsi hepatosit.
Filtrasi merupakan salah satu fungsi lumen lobus sinusoidal yang memisahkan permukaan hepatosit dari darahSEC memiliki kapasitas endositosis yang sangat besar dengan berbagai ligan seperti glikoproteinkompleks imuntransferin dan seruloplasmin. SEC juga berfungsi sebagai sel presenter antigen yang menyediakan ekspresi MHC I dan MHC II bagi sel TSekresi yang terjadi meliputi berbagai sitokinaeikosanoid seperti prostanoid dan leukotrienaendotelin-1nitrat oksida dan beberapa komponen ECM.
Sel Ito berada pada jaringan perisinusoidal, merupakan sel dengan banyak vesikel lemak di dalam sitoplasma yang mengikat SEC sangat kuat hingga memberikan lapisan ganda pada lumen lobus sinusoidal. Saat hati berada pada kondisi normal, sel Ito menyimpan vitamin A guna mengendalikan kelenturan matriks ekstraselular yang dibentuk dengan SEC, yang juga merupakan kelenturan dari lumen sinusoid.
Sel Kupffer berada pada jaringan intrasinusoidal, merupakan makrofaga dengan kemampuan endositik dan fagositik yang mencengangkan. Sel Kupffer sehari-hari berinteraksi dengan material yang berasal saluran pencernaan yang mengandung larutan bakterial, dan mencegah aktivasi efek toksin senyawa tersebut ke dalam hati. Paparan larutan bakterial yang tinggi, terutama paparan LPS, membuat sel Kupffer melakukan sekresi berbagai sitokina yang memicu proses peradangan dan dapat mengakibatkan cedera pada hati. Sekresi antara lain meliputi spesi oksigen reaktifeikosanoidnitrat oksidakarbon monoksidaTNF-αIL-10, sebagai respon kekebalan turunan dalam fasa infeksi primer.
Sel pit merupakan limfosit dengan granula besar, seperti sel NK yang bermukim di hati. Sel pit dapat menginduksi kematian seketika pada sel tumor tanpa bergantung pada ekspresiantigen pada kompleks histokompatibilitas utama. Aktivitas sel pit dapat ditingkatkan dengan stimulasi interferon-γ.
Selain itu, pada hati masih terdapat sel T-γδ, sel T-αβ dan sel NKT.

Daftar isi

 [sembunyikan]

[sunting]Fungsi hati

Berbagai jenis tugas yang dijalankan oleh hati, dilakukan oleh hepatosit. Hingga saat ini belum ditemukan organ lain atau organ buatan atau peralatan yang mampu menggantikan semua fungsi hati. Beberapa fungsi hati dapat digantikan dengan proses dialisis hati, namun teknologi ini masih terus dikembangkan untuk perawatan penderita gagal hati.
Sebagai kelenjar, hati menghasilkan:
Selain melakukan proses glikolisis dan siklus asam sitrat seperti sel pada umumnya, hati juga berperan dalam metabolisme karbohidrat yang lain:
dan pada lintasan katabolisme:
Hati juga mencadangkan beberapa substansi, selain glikogen:
Hati juga berperan dalam sistem kekebalan dengan banyaknya sel imunologis pada sistem retikuendotelial yang berfungsi sebagai tapis antigen yang terbawa ke hati melalui sistem portal hati. Perpindahan fasa infeksi dari fasa primer menjadi fasa akut, ditandai oleh hati dengan menurunkan sekresi albumin dan menaikkan sekresi fibrinogen. Fasa akut yang berkepanjangan akan berakibat pada simtoma hipoalbuminemia dan hiperfibrinogenemia.[5]

[sunting]Regenerasi sel hati

Kemampuan hati untuk melakukan regenerasi merupakan suatu proses yang sangat penting agar hati dapat pulih dari kerusakan yang ditimbulkan dari proses detoksifikasi dan imunologis. Regenerasi tercapai dengan interaksi yang sangat kompleks antara sel yang terdapat dalam hati, hepatositsel Kupffersel endotelial sinusoidalsel Ito dan sel punca; dengan organ ekstra-hepatik, kelenjar tiroidkelenjar adrenalpankreasduodenumhipotalamus.[6]
Hepatosit, adalah sel yang sangat unik. Potensi hepatosit untuk melakukan proliferasi, muncul pada saat-saat terjadi kehilangan massa sel,[7] yang disebut fasa prima atau fasa kompetensi replikatif[8] dan umumnya dipicu oleh sel Kupffer melalui sekresi sitokina IL-6 dan TNF-α. Pada fasa ini, hepatosit memasuki siklus sel dari fasa G0 ke fasa G1.
TNF-α dapat memberikan efek proliferatif atau apoptotik, bergantung pada spesi oksigen reaktif dan glutation, minimal 4 faktor transkripsi diaktivasi sebelum hepatosit masuk ke dalam fasa proliferasi, yaitu NFkappaB, STAT3, AP-1 dan C/EBPbeta.[9]
Proliferasi hepatosit diinduksi oleh stimulasi sitokina HGF dan TGF-α, dan EGF[9] dengan dua lintasan. HGF, TGF-α, dan EGF merupakan faktor pertumbuhan yang berasal darisubstrat serina dan protein logam[10] yang menginduksi sintesis DNA.[8] Lintasan pertama adalah lintasan IL-6/STAT3 yang berperan dalam siklus sel melalui siklin D1/p21 dan perlindungan sel dengan peningkatan rasio FLIP, Bcl-2, Bcl-xL, Ref1, dan MnSOD. Lintasan kedua adalah lintasan PI3-K/PDK1/Akt yang mengendalikan ukuran sel melalui molekulmTOR, selain sebagai zat anti-apoptosis dan antioksidan.
Hormon tri-iodotironina, selain menurunkan kadar kolesterol pada hati,[11] juga memiliki kapasitas dalam proliferasi hepatosit sebagai mitogen yang berperan pada siklin D1,[12]mempercepat konsumsi O2 oleh mitokondria dengan mengaktivasi transkripsi pada gen pernafasan hingga meningkatkan produksi spesi oksigen reaktif.[13] Sekresi ROS ke dalamsitoplasma hepatosit akan mengaktivasi faktor transkripsi NF-kappaB.[14] Pada sel KupfferROS dalam sitoplasma, akan mengaktivasi sekresi sitokina TNF-αIL-6 dan IL-1 untuk disekresi. Ikatan yang terjadi antara ketiga sitokina ini dengan hepatosit akan menginduksi ekspresi pencerap enzim antioksidan, seperti mangan superoksida dismutasei-nitrat oksida sintaseprotein anti-apoptosis Bcl-2, haptoglobin dan fibrinogen-β yang diperlukan hepatosit dalam proliferasi.[15] Stres oksidatif yang dapat ditimbulkan oleh ROS maupun kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh berbagai sitokina, dapat dilenyapkan dengan asupan tosoferol (100 mg/kg) atau senyawa penghambat gadolinium klorida (10 mg/kg) seperti yang dimiliki oleh sel Kupffer, sebelum stimulasi hormon tri-iodotironina,[16] sedangkan laju proliferasi hepatosit dikendalikan oleh kadar etanolamina sebagai faktor hepatotrofik humoral.[17]
Kemampuan hati untuk melakukan regenerasi telah diketahui semenjak jaman Yunani kuno dari cerita mitos tentang seorang titan yang bernama Prometheus.[18] Kemampuan ini dapat sirna, hingga hepatosit tidak dapat masuk ke dalam siklus sel, walaupun kehilangan sebagian massanya, apabila terjadi fibrosis hati. Lintasan fibrosis yang tidak segera mendapat perawatan, lambat laun akan berkembang menjadi sirosis hati[19] dan mengharuskan penderitanya untuk menjalani transplantasi hati atau hepatektomi demi kelangsungan hidupnya.
Regenerasi hati setelah hepatektomi parsial merupakan proses yang sangat rumit di bawah pengaruh perubahan hemodinamikamodulasi sitokina, hormon faktor pertumbuhan dan aktivasi faktor transkripsi, yang mengarah pada proses mitosis. Hormon PRL yang disekresi oleh kelenjar hipofisis menginduksi respon hepatotrofik sebagai mitogen yang berperan dalam proses proliferasi dan diferensiasi.[20] PRL memberi pengaruh kepada peningkatan aktivitas faktor transkripsi yang berperan dalam proliferasi sel, seperti AP-1c-Jun dan STAT-3; dan diferensiasi dan terpeliharanya metabolisme, seperti CEBP-alfa, HNF-1, HNF-4 dan HNF-3. c-Jun merupakan salah satu protein penyusun AP-1.[21] Induksi NFkappaB pada fasa ini diperlukan untuk mencegah apoptosis dan memicu derap siklus sel yang wajar.[22]

[sunting]Sel punca

Selain hepatosit dan sel non-parenkimal, pada hati masih terdapat jenis sel lain yaitu sel intra-hepatik yang sering disebut sel oval,[23] dan hepatosit duktular.[24] Regenerasi hati setelah hepatektomi parsial, umumnya tidak melibatkan sel progenitor intra-hepatik dan sel punca ekstra-hepatik (hemopoietik), dan bergantung hanya kepada proliferasi hepatosit. Namun dalam kondisi saat proliferasi hepatosit terhambat atau tertunda, sel oval yang berada di area periportal akan mengalami proliferasi dan diferensiasi menjadi hepatosit dewasa.[23][25] Sel oval merupakan bentuk diferensiasi dari sel progenitor yang berada pada area portal dan periportal, atau kanal Hering,[26] dan hanya ditemukan saat hati mengalamicedera.[27] Proliferasi yang terjadi pada sel oval akan membentuk saluran ekskresi yang menghubungkan area parenkima tempat terjadinya kerusakan hati dengan saluran empedu. Setelah itu sel oval akan terdiferensiasi menjadi hepatosit duktular. Hepatosit duktular dianggap merupakan sel transisi yang terkait antara lain dengan:[28]
tergantung pada jenis gangguan yang menyerang hati.
Pada mode tikus dengan 70% hepatektomi, dan induksi regenerasi hepatik dengan asetilaminofluorena-2, ditemukan bahwa sel punca yang berasal dari sumsum tulang belakang dapat terdiferensiasi menjadi hepatosit,[29][30] dengan mediasi hormon G-CSF sebagai kemokina dan mitogen.[31] Regenerasi juga dapat dipicu dengan D-galaktosamina.[32]

[sunting]Penyakit pada hati

Hati merupakan organ yang menopang kelangsungan hidup hampir seluruh organ lain di dalam tubuh. Oleh karena lokasi yang sangat strategis dan fungsi multi-dimensional, hati menjadi sangat rentan terhadap datangnya berbagai penyakit. Hati akan merespon berbagai penyakit tersebut dengan meradang, yang disebut hepatitis
Seringkali hepatitis dimulai dengan reaksi radang patobiokimiawi yang disebut fibrosis hati, dengan simtoma paraklinis berupa peningkatan rasio plasma laminin, sebuah glikoproteinyang disekresi sel Itoasam hialuronat dan sejenis aminopeptida yaitu prokolagen tipe III,[33] dan CEA.[34] Fibrosis hati dapat disebabkan oleh rendahnya rasio plasma HGF,[35][36] atau karena infeksi viral, seperti hepatitis B, patogen yang disebabkan oleh infeksi akut sejenis virus DNA yang memiliki fokus infeksi berupa templat transkripsi yang disebut cccDNA yang termetilasi,[37] atau hepatitis C, patogen serupa hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi virus RNA dengan fokus infeksi berupa metilasi DNA, terutama pada berkas GADD45beta, sehingga mengakibatkan siklus sel hepatosit menjadi tersendat-sendat.[38][39]
Fibrosis hati memerlukan penangan sedini mungkin, seperti pada model tikus, stimulasi proliferasi hepatosit akan meluruhkan fokus infeksi virus hepatitis B,[40] sebelum berkembang menjadi sirosis hati atau karsinoma hepatoselular. Setelah terjadi kanker hati, senyawa siklosporina yang memiliki potensi untuk memicu proliferasi hepatosit, justru akan mempercepat perkembangan sel kanker,[41] oleh karena sel kanker mengalami hiperplasia hepatik, yaitu proliferasi yang tidak disertai aktivasi faktor transkripsi genetik. Hal ini dapat diinduksi dengan stimulasi timbal nitrat (LN, 100 mikromol/kg), siproteron asetat (CPA, 60 mg/kg), dan nafenopin (NAF, 200 mg/kg).[42]
Hepatitis juga dapat dimulai dengan defisiensi mitokondria di dalam hepatosit, yang disebut steatohepatitis. Disfungsi mitokondria akan berdampak pada homeostasis senyawa lipiddan peningkatan rasio spesi oksigen reaktif yang menginduksi TNF-α.[43] Hal ini akan berlanjut pada pengendapan lemakstres oksidatif dan peroksidasi lipid,[44] serta membuat mitokondria menjadi rentan terhadap kematian oleh nekrosis akibat rendahnya rasio ATP dalam matrik mitokondria, atau oleh apoptosis melalui pembentukan apoptosom dan peningkatan permeabilitas membran mitokondria dengan mekanisme Fas/TNF-α. Permintaan energi yang tinggi pada kondisi ini menyebabkan mitokondria tidak dapat memulihkan cadangan ATP hingga dapat memicu sirosis hati,[44] sedangkan peroksidasi lipid akan menyebabkan kerusakan pada DNA mitokondria dan membran mitokondria sisi dalam yang disebut sardiolipin, dengan peningkatan laju oksidasi-beta asam lemak, akan terjadi akumulasi elektron pada respiratory chain kompleks I dan III yang menurunkan kadarantioksidan.[43]
Sel hepatosit apoptotik akan dicerna oleh sel Ito menjadi fibrinogen dengan reaksi fibrogenesis setelah diaktivasi oleh produk dari peroksidasi lipid dan rasio leptin yang tinggi. Apoptosis kronis kemudian dikompensasi dengan peningkatan laju proliferasi hepatosit, disertai DNA yang rusak oleh disfungsi mitokondria, dan menyebabkan mutasi genetik dan kanker.
Pada model tikusmelatonin merupakan senyawa yang menurunkan fibrosis hati,[45] sedang pada model kelincikurkumin merupakan senyawa organik yang menurunkan paraklinis steatohepatitis,[46] sedang hormon serotonin[47] dan kurangnya asupan metionina kolina[48] memberikan efek sebaliknya dengan resistansi adiponektin.[49]
Disfungsi mitokondria juga ditemukan pada seluruh patogenesis hati, dari kasus radang hingga kanker dan transplantasi.[50] Pada kolestasis kronik, asam ursodeoksikolat bersama dengan glutation bersinergis sebagai antioksidan yang melindungi sardiolipin dan fosfatidil serina hingga mencegah terjadinya sirosis hati.[51]

[sunting]Transplantasi hati

Teknologi transplantasi hati merupakan hasil yang dikembangkan dari penelitian pada beberapa bidang studi kedokteran. Pada tahun 1953, BillinghamBrent, dan Medawarmenemukan bahwa toleransi kimerisme[52] dapat diinduksi oleh infus sel hematolimfopoietik donor pada model tikus.[53]
Pada tahun 1958 studi canine mengembangkan suatu teori mengenai molekul hepatotrofik pada portal pembuluh balik pada hati dan menemukan hormon insulin sebagai faktor hepatotrofik utama dari beberapa faktor lain yang ada.[54] Pada saat yang hampir bersamaan teori mengenai transplantasi multiviseral dan hati juga berkembang dari studi imunosupresiyang mempelajari algoritma empiris dari pengenalan pola dan respon terapis. Pada awal 1960, dibuktikan bahwa canine dan allograft manusia memiliki toleransi kimersime yang dapat terinduksi otomatis dengan bantuan imunosupresi, hingga pada akhir 1962 disimpulkan dengan keliru, bahwa transplantasi melibatkan dua sistem kekebalan yang berbeda. Konsekuensi kesimpulan tersebut menjadi dogma bahwa tolerogenisitas hati, pada dasarnya, berbeda, tidak hanya dengan sumsum tulang belakang, tetapi dengan seluruh organ tubuh yang lain.[53] Kekeliruan ini tidak terkoreksi dengan baik hingga tahun 1990.[52]
Transplantasi hati yang pertama dilakukan di Denver pada tahun 1963,[55] keberhasilan pertama tercatat pada tahun 1967 dengan azatioprinaprednison dan globulin anti-limfoid, olehThomas E. Starzl dari Amerika Serikat, disusul oleh keberhasilan transplantasi sumsum tulang belakang manusia pada tahun 1968.[52] Rentang waktu antara 1967 hingga 1979 mencatat 84 kali transplantasi hati pada anak dengan 30% daya tahan hidup hingga 2 tahun.[55]
Perkembangan studi imunosupresi kemudian memberikan perbaikan dan harapan hidup lebih panjang bagi pasien, antara lain dengan pergantian azatioprina dengan siklosporina pada tahun 1979, lalu tergantikan dengan takrolimus pada tahun 1989.[54]
Pada tahun 1992, dikembangkan teori mikrokimerisme leukosit donor[56] dengan cakupan donor dari silsilah berlainan, yang memberikan harapan hidup yang sangat panjang bagi penerima donor organ, setelah diketahui hubungan antara aspek imunologis dari transplantasi, infeksi, toleransi oleh sumsum tulang belakangneoplasma dan kelainan otoimun, yang disebut sebagai mekanisme seminal. Respon kekebalan dan toleransi kekebalan antara organ donor dan tubuh ditemukan merupakan fungsi dari migrasi dan lokalisasi leukosit.[53]Salah satu temuan adalah aktivasi sistem kekebalan turunan oleh sel NK dan interferon-γ segera setelah transplantasi selesai dilakukan.[57] Pada model tikus, sel hepatosit donor ditemukan bersifat sangat antigenik sehingga memicu respon penolakan, yang dapat dilakukan secara mandiri atau bersama-sama antara sel T CD4 dan sel T CD8.[58]
Untuk itu diperlukan terapi imunosupresif yang intensif sebelum transplantasi dilakukan, yang disebut preparative regimen atau conditioning untuk mencegah penolakan organ donor oleh sistem kekebalan inang.[59] Terapi imunosupresif tersebut ditujukan untuk menekan sel T dan sel NK inang guna memberikan ruang di dalam sumsum tulang belakang untuk transplantasi sel punca hematopoietik dari organ donor melalui terapi mielosupresif, untuk keseimbangan repopulasi sel donor dengan sel hasil diferensiasi dari sel punca inang.
Dewasa ini, transplantasi hati dilakukan hanya pada saat hati telah memasuki jenjang akhir suatu penyakit, atau telah terjadi disfungsi akut yang disebut fulminant hepatic failure. Kasus transplantasi hati pada manusia umumnya disebabkan oleh sirosis hati akibat dari hepatitis C kronis, ketergantungan alkohol, hepatitis otoimun dll.
Teknik umum yang digunakan adalah transplantasi ortotopik, yaitu penempatan organ donor pada posisi anatomik yang sama dengan posisi awal organ sebelumnya. Transplantasi hati berpotensi dapat diterapkan, hanya jika penerima organ donor tidak memiliki kondisi lain yang memberatkan, seperti kanker metastatis di luar organ hati, ketergantungan pada obat-obatan atau alkohol. Beberapa ahli berpedoman pada kriteria Milan untuk seleksi pasien transplantasi hati.
Organ donor, disebut allograft, biasanya berasal dari manusia lain yang baru saja meninggal dunia akibat cedera otak traumatik (kadaverik). Teknik transplantasi lain menggunakan organ manusia yang masih hidup, operasi hepatektomi mengangkat 20% hati pada segmen Coinaud 2 dan 3 dari orang dewasa untuk didonorkan kepada seorang anak, pada tahun 1989.

[sunting]Rujukan

  1. ^ (en) Cooperation of liver cells in health and disease.Medical University of Gdansk, Department of Histology and Immunology; Kmieć Z.. Diakses pada 30 Juli 2010
  2. ^ (en) Insulin Action in Hyperthyroidism: A Focus on Muscle and Adipose Tissue..Hellenic National Center for Research, Prevention, and Treatment of Diabetes Mellitus and Its Complications, et al; Mitrou P, Raptis SA, Dimitriadis G.. Diakses pada 7 Agustus 2010
  3. ^ (en) Glucagon deficiency reduces hepatic glucose production and improves glucose tolerance in adult mice.Department of Pathology and Laboratory Medicine, Children's Hospital of Philadelphia; Hancock AS, Du A, Liu J, Miller M, May CL.. Diakses pada 7 Agustus 2010
  4. ^ (en) Hypothalamic integration of portal glucose signals and control of food intake and insulin sensitivity.Inserm U855, Institut national de la santé et de la recherche médicale, faculté de médecine Laennec; Delaere F, Magnan C, Mithieux G.. Diakses pada 7 Agustus 2010
  5. ^ (en) The effect of prednisolone and a protein-deficient diet on plasma albumin and fibrinogen in a turpentine-induced acute-phase reaction in ratsDepartment of Internal Medicine, University of Berne; Ballmer PE, Studer H.. Diakses pada 2 Agustus 2010
  6. ^ (en) Molecular mechanisms of liver regeneration and protection for treatment of liver dysfunction and diseases.Department of General Surgery, Hokkaido University School of Medicine; Fujiyoshi M, Ozaki M.. Diakses pada 30 Juli 2010
  7. ^ (en) The role of cytokines in liver failure and regeneration: potential new molecular therapies.The Goldyne Savad Institute for Gene Therapy, Hadassah Hebrew University Hospital,; Galun E, Axelrod JH.. Diakses pada 30 Juli 2010
  8. ^ a b (en) Liver regeneration. 2. Role of growth factors and cytokines in hepatic regenerationDepartment of Pathology and Laboratory Medicine, Brown University,; Fausto N, Laird AD, Webber EM.. Diakses pada 30 Juli 2010
  9. ^ a b (en) Liver regeneration.Department of Pathology, University of Washington School of Medicine; Fausto N.. Diakses pada 30 Juli 2010
  10. ^ (en) A molecular view of liver regenerationDepartment of Pathology, FMRP, USP, Brazil.; Tarlá MR, Ramalho FS, Ramalho LN, Silva Tde C, Brandão DF, Ferreira J, Silva Ode C, Zucoloto S.. Diakses pada 30 Juli 2010
  11. ^ (en) Regulation of thyroid hormone activation via the liver X-receptor/retinoid X-receptor pathwayHuman and Natural Sciences Center, Federal University of ABC; Christoffolete MA, Doleschall M, Egri P, Liposits Z, Zavacki AM, Bianco AC, Gereben B.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  12. ^ (en) Triiodothyronine stimulates hepatocyte proliferation in two models of impaired liver regenerationDepartment of Toxicology, Oncology and Molecular Pathology Unit, University of Cagliari,; Columbano A, Simbula M, Pibiri M, Perra A, Deidda M, Locker J, Pisanu A, Uccheddu A, Ledda-Columbano GM.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  13. ^ (en) Hormetic responses of thyroid hormone calorigenesis in the liver: Association with oxidative stressMolecular and Clinical Pharmacology Program, Institute of Biomedical Sciences, Faculty of Medicine, University of Chile; Videla LA.. Diakses pada 19 Agustus 2010
  14. ^ (en) Thyroid hormone-induced oxidative stress triggers nuclear factor-kappaB activation and cytokine gene expression in rat liver.Programa de Farmacologíca Molecular y Clínica, Instituto de Ciencias Biomédicas, Universidad de Chile; Tapia G, Fernández V, Varela P, Cornejo P, Guerrero J, Videla LA.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  15. ^ (en) Hormetic responses of thyroid hormone calorigenesis in the liver: Association with oxidative stress.Molecular and Clinical Pharmacology Program, Institute of Biomedical Sciences, Faculty of Medicine, University of Chile; Videla LA.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  16. ^ (en) Redox regulation of thyroid hormone-induced Kupffer cell-dependent IkappaB-alpha phosphorylation in relation to inducible nitric oxide synthase expression..Molecular and Clinical Pharmacology Program, Institute of Biomedical Sciences, Faculty of Medicine, University of Chile; Fernández V, Tapia G, Varela P, Videla LA.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  17. ^ (en) Ethanolamine modulates the rate of rat hepatocyte proliferation in vitro and in vivoMeiji Institute of Health Sciences; Sasaki H, Kume H, Nemoto A, Narisawa S, Takahashi N.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  18. ^ (en) The myth of Prometheus and the liverDepartment of Pathology, East Orange Veterans Affairs Medical Center; T S Chen dan P S Chen. Diakses pada 1 Agustus 2010
  19. ^ (en) Reversal of liver fibrosisDepartment of Internal Medicine, Division of Gastroenterology at King Fahad Hospital of the University; Ismail MH, Pinzani M.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  20. ^ (en) Prolactin's role in the early stages of liver regeneration in rats.Departamento de Biología Molecular, Facultad de Ciencias C-V, Universidad Autónoma de Madrid; Olazabal IM, Muñoz JA, Rodríguez-Navas C, Alvarez L, Delgado-Baeza E, García-Ruiz JP.. Diakses pada 4 Agustus 2010
  21. ^ (en) Signal transduction during liver regenerationDepartment of Medicine, University of North Carolina at Chapel Hill; Brenner DA.. Diakses pada 4 Agustus 2010
  22. ^ (en) NFkappaB prevents apoptosis and liver dysfunction during liver regeneration.Department of Medicine, The University of North Carolina at Chapel Hill,; Iimuro Y, Nishiura T, Hellerbrand C, Behrns KE, Schoonhoven R, Grisham JW, Brenner DA.. Diakses pada 4 Agustus 2010
  23. ^ a b (en) The role of hepatocytes and oval cells in liver regeneration and repopulationDepartment of Pathology, University of Washington; Fausto N, Campbell JS.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  24. ^ (en) Ductular hepatocytesMedical College of Virginia, Virginia Commonwealth University; Sirica AE.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  25. ^ (en) Stem cells, cell transplantation and liver repopulationMarion Bessin Liver Research Center, Division of Hepatology, Department of Medicine, Albert Einstein College of Medicine of Yeshiva University; Oertel M, Shafritz DA.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  26. ^ (en) Hepatic progenitor cells, stem cells, and AFP expression in models of liver injuryDivision of Radiooncology, Deutsches Krebsforschungszentrum; Kuhlmann WD, Peschke P.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  27. ^ (en) Hepatic stem cells: a review.Department of Anatomical Pathology, University of Cape Town; Vessey CJ, de la Hall PM.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  28. ^ (en) Ductular hepatocytes.Medical College of Virginia, Virginia Commonwealth University; Sirica AE.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  29. ^ (en) Bone marrow-derived hepatic oval cells differentiate into hepatocytes in 2-acetylaminofluorene/partial hepatectomy-induced liver regeneration.Department of Pathology, Immunology and Laboratory Medicine, University of Florida College of Medicine,; Oh SH, Witek RP, Bae SH, Zheng D, Jung Y, Piscaglia AC, Petersen BE.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  30. ^ (en) Bone marrow as a potential source of hepatic oval cells.Department of Pathology, School of Medicine, University of Pittsburgh; Petersen BE, Bowen WC, Patrene KD, Mars WM, Sullivan AK, Murase N, Boggs SS, Greenberger JS, Goff JP.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  31. ^ (en) Granulocyte-colony stimulating factor promotes liver repair and induces oval cell migration and proliferation in rats.Department of Pathology, Immunology and Laboratory Medicine, College of Medicine, University of Florida; Piscaglia AC, Shupe TD, Oh SH, Gasbarrini A, Petersen BE.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  32. ^ (en) Activation, proliferation, and differentiation of progenitor cells into hepatocytes in the D-galactosamine model of liver regeneration.Marion Bessin Liver Research Center, Albert Einstein College of Medicine; Dabeva MD, Shafritz DA.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  33. ^ (en) Biochemical markers of hepatic fibrosis.Department of Clinical Biochemistry, University of Padova; Plebani M, Burlina A.. Diakses pada 2 Agustus 2010
  34. ^ (en) Evaluation of the behavior of carcinoembryonic antigen in cirrhotic patients..Service of Internal Medicine, Hospital de Galdacano; Collazos J, Genollà J, Ruibal A.. Diakses pada 2 Agustus 2010
  35. ^ (en) Hepatocyte growth factor: a regenerative drug for acute hepatitis and liver cirrhosisDivision of Molecular Regenerative Medicine, Department of Biochemistry and Molecular Biology, Osaka University Graduate School of Medicine; Mizuno S, Nakamura T.. Diakses pada 28 Juli 2010
  36. ^ (en) Growth inhibition and apoptosis in liver myofibroblasts promoted by hepatocyte growth factor leads to resolution from liver cirrhosisDivision of Molecular Regenerative Medicine, Course of Advanced Medicine, Osaka University Graduate School of Medicine; Kim WH, Matsumoto K, Bessho K, Nakamura T.. Diakses pada 28 Juli 2010
  37. ^ (en) Evidence that methylation of hepatitis B virus covalently closed circular DNA in liver tissues of patients with chronic hepatitis B modulates HBV replication.State Key Laboratory of Cancer Biology, Department of Pharmacogenomics, School of Pharmacy, The Fourth Military Medical University; Guo Y, Li Y, Mu S, Zhang J, Yan Z.. Diakses pada 2 Agustus 2010
  38. ^ (en) Downregulation of Gadd45beta expression by hepatitis C virus leads to defective cell cycle arrest.Institut National de la Santé et de la Recherche Médicale U955; Higgs MR, Lerat H, Pawlotsky JM.. Diakses pada 2 Agustus 2010
  39. ^ (en) Hypermethylation of growth arrest DNA damage-inducible gene 45 beta promoter in human hepatocellular carcinoma.Department of Medical Oncology and Therapeutic Research, City of Hope National Medical Center; Qiu W, Zhou B, Zou H, Liu X, Chu PG, Lopez R, Shih J, Chung C, Yen Y.. Diakses pada 2 Agustus 2010
  40. ^ (en) In vivo proliferation of hepadnavirus-infected hepatocytes induces loss of covalently closed circular DNA in mice.Department of Medicine, University Medical Center Hamburg-Eppendorf,; Lutgehetmann M, Volz T, Köpke A, Broja T, Tigges E, Lohse AW, Fuchs E, Murray JM, Petersen J, Dandri M.. Diakses pada 2 Agustus 2010
  41. ^ (en) Cyclosporine stimulates hepatocyte proliferation and accelerates development of hepatocellular carcinomas in ratsDepartment of Pathology, University of Pittsburgh School of Medicine,; Masuhara M, Ogasawara H, Katyal SL, Nakamura T, Shinozuka H.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  42. ^ (en) Liver cell proliferation induced by nafenopin and cyproterone acetate is not associated with increases in activation of transcription factors NF-kappaB and AP-1 or with expression of tumor necrosis factor alphaDipartimento di Biochimica, Università di Verona; Menegazzi M, Carcereri-De Prati A, Suzuki H, Shinozuka H, Pibiri M, Piga R, Columbano A, Ledda-Columbano GM.. Diakses pada 1 Agustus 2010
  43. ^ a b (en) Mitochondrial injury in steatohepatitis.Institut National de la Santé et de la Recherche Médicale (INSERM) Unité 481, Faculté de Médecine Xavier Bichat; Pessayre D, Fromenty B, Mansouri A.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  44. ^ a b (en) Mitochondrial involvement in non-alcoholic steatohepatitis.Department of Medical and Occupational Sciences, University of Foggia; Serviddio G, Sastre J, Bellanti F, Viña J, Vendemiale G, Altomare E.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  45. ^ (en) Melatonin ameliorates experimental hepatic fibrosis induced by carbon tetrachloride in ratsDepartment of Geriatrics Medicine, The First Affiliated Hospital of Anhui Medical University; Hong RT, Xu JM, Mei Q.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  46. ^ (en) Curcumin ameliorates rabbits's steatohepatitis via respiratory chain, oxidative stress, and TNF-alpha.Department of Biochemistry and Molecular Biology II, 18071 University of Granada; Ramirez-Tortosa MC, Ramirez-Tortosa CL, Mesa MD, Granados S, Gil A, Quiles JL.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  47. ^ (en) Serotonin mediates oxidative stress and mitochondrial toxicity in a murine model of nonalcoholic steatohepatitis.Swiss Hepato-Pancreato-Biliary Center, Department of Visceral and Transplantation Surgery, University Hospital Zurich; Nocito A, Dahm F, Jochum W, Jang JH, Georgiev P, Bader M, Renner EL, Clavien PA.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  48. ^ (en) Pentoxifylline attenuates steatohepatitis induced by the methionine choline deficient diet.Department of Medicine, Division of Hepatology, Feinberg School of Medicine, Northwestern University; Koppe SW, Sahai A, Malladi P, Whitington PF, Green RM.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  49. ^ (en) MCD-induced steatohepatitis is associated with hepatic adiponectin resistance and adipogenic transformation of hepatocytes.ANU Medical School, Australian National University at The Canberra Hospital,; Larter CZ, Yeh MM, Williams J, Bell-Anderson KS, Farrell GC.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  50. ^ (en) Targeting Mitochondria: A New Promising Approach for the Treatment of Liver DiseasesCentre for the Study of Liver Diseases, Department of Medical and Occupational Sciences; Serviddio G, Bellanti F, Sastre J, Vendemiale G, Altomare E.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  51. ^ (en) Ursodeoxycholic acid protects against secondary biliary cirrhosis in rats by preventing mitochondrial oxidative stress.Department of Medical and Occupational Sciences, University of Foggia; Serviddio G, Pereda J, Pallardó FV, Carretero J, Borras C, Cutrin J, Vendemiale G, Poli G, Viña J, Sastre J.. Diakses pada 5 Agustus 2010
  52. ^ a b c (en) History of clinical transplantation.Thomas E. Starzl Transplantation Institute, University of Pittsburgh Medical Center,; Starzl TE.. Diakses pada 4 Agustus 2010
  53. ^ a b c (en) The mystique of hepatic tolerogenicity.Transplantation Institute, Departments of Surgery, Pathology, and Pediatrics, University of Pittsburgh Medical Center; Starzl TE, Murase N, Demetris A, Trucco M, Fung J.. Diakses pada 4 Agustus 2010
  54. ^ a b (en) History of clinical transplantation.Thomas E. Starzl Transplantation Institute, University of Pittsburgh; Starzl TE. Diakses pada 4 Agustus 2010
  55. ^ a b (en) History of pediatric liver transplantation. Where are we coming from? Where do we stand?Department of Pediatric Surgery and Liver Transplantation, Université Catholique de Louvain; Otte JB.. Diakses pada 4 Agustus 2010
  56. ^ (en) The unfinished legacy of liver transplantation: emphasis on immunology..Transplantation Institute, Department of Surgery, University of Pittsburgh Medical Center; Starzl TE, Lakkis FG.. Diakses pada 4 Agustus 2010

[sunting]Pranala luar